5 Alasan Kenapa Pemberian Vaksin BCG pada Bayi Harus Ditunda

Pada dasarnya, vaksin BCG itu bagus untuk bayi berusia sebelum 3 bulan. Manfaatnya bisa dipakai untuk mencegah terjadinya penyakit TBC atau tuberkulosis. Vaksin ini setelah masuk ke dalam tubuh bayi, langsung merangsang sistem imun atau pelindung bakteri tuberkulosis.Tapi rupanya ada beberapa alasan kenapa pemberian vaksin harus ditunda. Apa saja, Mom?

1. Bayi Mengalami Demam Tinggi

Saat bayi tengah demam tinggi, berarti keadaan tubuhnya belum siap. Ketika vaksin BCG dipaksa masuk, hasilnya jadi kurang efektif. Daya tahan tubuh belum begitu baik. barat ribuan prajurit yang kelelahan akibat perjalanan jauh, kemudian dipaksa bangkit untuk siap siaga sebelum musuh datang, tentu kurang efektif. Maka obati dulu hingga sembuh.

Kemudian diistirahatkan secukupnya agar bisa memperoleh energi cukup. Vaksin ini sifatnya merangsang sekaligus memberi bantuan dengan terciptanya sel-sel pelindung. Kondisi yang dilindungi harus fit. Ada beberapa kasus yang menyebutkan, bahwa pemberian vaksin saat demam tinggi justru bisa menimbulkan bahaya pada bayi.

2. Terkena HIV

HIV merupakan penyakit kelas berat. Penularannya bisa melaluiair liur, hubungan badan, obat-obatan, dan lainnya. Bisa pula menular langsung ketika hamil. Jadi, janin yang berada dalam kandungan, begitu lahir langsung menderita HIV. Pada kondisi seperti ini, pemberian vaksin BCG harus ditunda karena berada pada situasi yang cukup kritis.

Orang dewasa saja yang terkena HIV langsung kesulitan melanjutkan hidup, apalagi yang masih bayi. Si kecil yang berpenyakit HIV, ketika diberikan vaksin, maka tubuhnya akan melemah. Ketika bakteri tuberkulosis datang menyerang, daya tahan tubuhnya belum siap. Walaupun diberi vaksin? Betul. Jadi, lebih baik ditangani lebih dulu.

3. Bayi Terkena Infeksi Kulit

Vaksin BCG merupakan pemicu sel-sel pelindung yang bersifat reaktif. Jadi, sebelum diberi suntikan vaksin, lebih dulu dilakukan tes tuberkulin. Selain itu, untuk bayi yang terkena infeksi kulit, sebaiknya pemberian vaksin ditunda. Efeknya jadi tidak begitu terasa karena bayi masih memerlukan penyembuhan.

4. Bayi Mengalami Reaksi Anafilaktik

Reaksi ini baru akan tampak ketika diberi vaksin. Sifatnya memang disebabkan oleh alergi. Tapi pada kasus reaksi anafilaktik, Mom haruslebih hati-hati. Karena bisa mengancam nyawa si kecil. Keadaan syok pada bayi berlangsung dalam hitungan detik ataupun menit setelah mengalami kontak dengan vaksin BCG.

Gejalanya begitu beragam. Mulai dari pembengkakan di lidah dan bibir, badan tiba-tiba hangat, sakit perut, mual, muntah, diare, kesemutan di beberapa bagian tubuh. Bahkan, dampak secara psikologis juga muncul. Misalnya ekspresi yang menampakkan kegelisahan, perasaan bingung yang diiringi jantung berdebar kencang, dan sebagainya.

5. Tinggal Serumah dengan Penderita Tuberkulosis

Penundaannya lebih bersifat teknis daripada medis. Sebelum diberi vaksin, maka diperlukan perawatan yang intens. Terutama untuk anggota keluarga yang nantinya akan menemani keseharian si kecil. Siapa lagi kalau bukan mereka yang mengasuhnya hingga besar? Karena sifat tuberkulosis itu bisa memperlemah sistem imun yang diberikan.

Meskipun efek samping imunisasi ini sangat jarang terjadi, potensi penularan tuberkulosis dini oleh keluarga patut diwaspadai. Karena misi imunisasi dengan vaksin ini adalah untuk mencegah terjadinya potensi penyakit tuberkulosis. Demi kesehatan bayi, apa pun memang perlu dikorbankan. Mulai dari tenaga, biaya, hingga waktu demi masa depannya kelak.

Setelah pemberian vaksin BCG, biasanya titik suntikan akan membesar. Ukurannya bisa mencapai hampir 1 cm. Kira-kira setelah 2-6 minggu usai disuntik. Kemudian akan terasa keras karena cairan vaksin berada di permukaan yang kering. Nah, beberapa faktor tersebut patut diperhatikan bila Mom ingin dampak dari vaksin ini berjalan dengan aman.

Baca Juga:

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *